Tuesday, April 23, 2013

Sosiolinguistik dan Pendidikan

image from www.buzzle.com
Kontribusi utama sosiolinguistik dalam bidang pendidikan adalah dalam perhatiannya terhadap perbedaan-perbedaan penggunaan bahasa siswa di lingkungan kelas dan di lingukngan rumah. Karena bahasa sangat penting dalam proses belajar dan mengajar, penggunaannya pun diatur di kelas.  Teacher talk adalah nama yang diberikan untuk register tertentu yang digunakan oleh guru. Hal tersebut digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan siswa pada topik-topik spesifik, pendekatan-pendekatan, serta memberikan instruksi. Seperli semua register, Teacher talk telah mengembangkan ketentuan dan sifat tertentu.  Teacher talk biasanya terdiri dari ujaran-ujaran guru yang lebih panjang dan kompleks dari yang diharapkan oleh guru dari para siswa. Selain itu, percakapannya biasanya banyak berasal dari arah guru yang bertanya, mengatur respon, dan lain-lain. Pertukaran informasi antar guru dan siswa tidak terbentuk secara acak namun diatur dalam rangkaian IRE (Initiation, Response, Evaluation), seperti yang diidentifikasi oleh Mehan (1979, dalam Mesthrie, 2008) seperti yang dijelaskan di bawah ini:

INITIATION (guru): Siapa yang mengetahui pinguin hidup di mana?
RESPONSE (siswa): Di Antartika.
EVALUATION (guru): Tepat sekali, Jill. Sekarang di mana lagi penguin dapat ditemukan? (rangkaian baru dimulai).

Percakapan dalam kelas pada umumnya berpola IRE, namun guru tetap dapat memperjelas, memodifikasi, dan memperluasnya sesuai dengan kebutuhan. Tentunya rangkaian sederhana ini bukanlah hal yang pasti yang sudah disetujui secara umum. Leap (1993, dalam Mesthrie, 2008) menekankan bahwa karena pertanyaan-pertanyaan mungkin memiliki kecenderungan berbeda pada budaya yang berdeda; para siswa harus sejalan dengan ketentuan bahasa yang digunakan di kelas sebelum menangkap isi pembelajaran. Diantara orang-orang Utah selatan dimana Leap bekerja, bertanya diperbolehkan apabila orang yang ditanya mengetahui jawabannya—jadi, siswa yang diberikan pertanyaan diharuskan untuk menjawab. Dalam sebuah contoh dari bahasa kelas, Leap menunjukkan bagaimana tradisi tersebut memaksa seorang siswa pemula untuk menyediakan sebuah jawaban dari pertanyaan guru daripada mengakui bahwa ia belum dapat menjawab  (lihat Leap & Mesthrie, 2000: 356–361, dalam Mesthrie, 2008). Hal ini dapat memicu kesalahpahaman antara siswa and guru, serta menjadi sebuah halangan bagi kemajuan pembelajaran. Sensitifitas etnografi harus sejalan dengan pemahaman akan peranan pendidikan dasar yang dijelaskan dalam Shirley Brice-Heath’s (1983, dalam Mesthrie, 2008) yang menyatakan perbedaan antara orang kulit putih kelas menengah, orang kulit hitam kelas pekerja, serta komunitas-komunitas orang kulit hitam di pedalaman Carolina Utara.
Dalam studi yang dilakukan Labov, beberapa komunitas kulit hitam menggunakan bahasa Inggris yang bukan bahasa Inggris standar (standard English) dan cenderung dalam bentuk yang telah disingkat. Copula (elemen yang menghubungkan dalam bahasa,  seperti to be: is, am, are dalam bahasa Inggris) cenderung menghilang dalam kalimat yang mereka gunakan; seperti dalam She is smart atau He is my uncle, orang kulit hitam dan beberapa dialek cenderung menghilangkan copula tersebut (She smartHe my uncle). Walaupun pada saat itu Komunitas Linguistik Amerika mendukung penuh pengakuan variasi bahasa yang digunakan oleh anak-anak Afro-Amerika, reaksi masyarakat Amerika berbeda-beda. Debat yang bermunculan menunjukkan bagaimana masalah bahasa menjadi begitu penting dalam pendidikan. Hal itu juga menunjukkan bagaimana pentingnya status variasi bahasa, sikap pengguna bahasa, dan adanya perbedaan kekuatan variasi bahasa dalam masyarakat luas.
Isu yang tidak kalah kompleksnya adalah tentang bahasa apa yang digunakan dalam kelas multilingual. Landasan dari diskusi adalah laporan tahun 1953 dari komite para ahli yang ditugaskan UNESCO untuk menyelidiki bahasa dalam konteks pendidikan di seluruh dunia (Mesthrie dalam Spolsky & Hult, 2008). Laporan ini menekankan pentingnya penggunaan bahasa pertama siswa dalam mengembangkan kemampuan ‘mengekspresikan diri’ secara penuh. Bahasa ibu sebaiknya digunakan selama persediaan materi dan buku memadai. Laporan ini juga menyarankan bahwa jika bahasa pertama seorang anak bukan bahasa resmi negara dimana ia tinggal, maka ia harus mempelajarinya sebagai bahasa kedua. Laporan ini menjadi dasar bagi James Cummins (1979, dalam Mesthrie, 2008) untuk meneliti kelas-kelas bilingual di Kanada. Dari studinya tersebut, ia menghasilkan hipotesis yang dikenal sebagai ‘Treshold Hypothesis’ yang beranggapan bahwa seorang anak harus mencapai tingkatan tertentu dalam bahasa pertamanya sebelum ia mampu berhasil dalam bahasa keduanya. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa tingkatan yang telah dicapai dalam tiap-tiap bahasa (pertama dan kedua) akan membuat pengetahuan satu bahasa memperkuat bahasa lainnya—hipotesis ini disebut ‘Interdependence Hypothesis’. Walaupun menarik, pernyataan ini tetap menjadi hipotesis yang dapat dibuktikan di luar program bilingual di Kanada yang diteliti Cummins. Kritik yang muncul menganggap bahwa kesuksesan dalam pendidikan bilingual bergantung pada lebih banyak faktor lain seperti motivasi, emosi, finansial, atau bahkan sosiopolitik seperti yang muncul dalam isu kelas bilingual di RSBI di Indonesia beberapa waktu lalu.
Walaupun secara sekilas perhatian sosiolinguistik terhadap bahasa sehari-hari   tampak kurang cocok dengan urusan guru, yang biasanya mengajar dengan register bahasa yang formal dan standar, ternyata ada hal yang berkaitan. Sosiolinguistik memaksa kita untuk memperhatikan prioritas bahasa yang digunakan masyarakat untuk menjadi dasar register bahasa yang digunakan di sekolah untuk keberhasilan proses belajar mengajar. Para pendidik juga dituntut untuk memahami bahwa variasi bahasa seseorang adalah bagian dari identitasnya. Mesthrie (dalam Spolsky & Hult, 2008) berpendapat bahwa menuntut anak untuk merubah gaya berbicara mereka, misalnya, tidak hanya mengarahkan secara linguistik, akan tetapi juga secara sosial. Ia juga menyarankan akan lebih baik untuk menambah perbendaharaan stilistik (stylistic repertoire) seseorang, dibanding mengganti logat asli orang tersebut, karena perubahan style merupakan kebiasaan linguistik yang normal.


Referensi
Mesthrie, Rajend. (2008). Sociolinguistics and Sociology of Language. Dalam Spolsky, B. & Hult, F.M. (Editor). The Handbook of Educational Linguistics. Oxford: Blackwell Publishing.

Karakteristik Sosiolinguistik


Linguistik mempelajari bahasa dari berbagai sudut pandang. Beberapa fokus linguistiyang paling signifikan adalah struktur, pemerolehan, penggunaan, dan perubahan bahasa. Sosiolinguistik—sebagai salah satu cabang linguistik—walaupun mencakup aspek-aspek tersebut, fokusnya adalah pada penggunaan bahasa. Sosiolinguistik memfokuskan diri dalam mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat untuk mendapatkan pemahaman mengenai struktur bahasa dan bagaimana bahasa berperan dalam komunikasi. Hudson (1996: 4, dalam Wardhaugh, 2006:13) mendeskripsikan sosiolinguistik sebagai ‘kajian bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat’. Latar belakang sosial dan maksud pengguna bahasa, karakteristik dan identitas sosial mereka, juga konteks sosial dimana bahasa itu digunakan merupakan beberapa yang termasuk kajian sosiolinguistik.
            Konteks sosial yang dimaksud di sini mencakup hal-hal seperti siapa yang berbicara, bahasa seperti apa yang tepat digunakan dalam situasi tertentu, dan bagaimana para pengguna suatu bahasa memiliki asumsi dan norma budaya yang berbeda walaupun mereka tampak berbicara bahasa yang sama (Mesthrie dalam Spolsky & Hult, 2008: 66). Sosiolinguistik memperhatikan sepenuhnya pada ‘keadaan sesungguhnya’ suatu bahasa dalam konteks sosial tersebut. Sosiolinguistik memiliki pendekatan yang non-preskriptif; ia tidak statis dan tidak membenarkan atau menyarankan bagaimana idealnya suatu bahasa. Sosiolinguistik menghindari penilaian subjektif bahwa beberapa aspek dari suatu bahasa lebih baik daripada yang lain dan lebih melihat bahwa ada banyak variasi norma dalam sebuah masyarakat bahasa yang disebabkan oleh perbedaan karakteristik kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut maupun perbedaan konteks penggunaan bahasa. Akhir-akhir ini, di televisi sering terlihat bagaimana muncul ungkapan seperti, ‘Terus aku harus bilang wow, gitu?” untuk merespon secara sarkastis pernyataan orang lain. Dari situ seorang sosiolinguis akan bertanya: siapa yang menggunakan ungkapan tersebut? Berapakah usia pembicara? Dalam konteks apa saja ungkapan itu digunakan?. Kesimpulannya, sosiolinguistik memiliki kecenderungan ‘bottom up’ (bawah ke atas) dibanding ‘top down’ (atas ke bawah).
Mesthrie (dalam Spolsky & Hult, 2008: 67) merangkum bahwa karakterisik sosiolinguistik secara umum adalah:
  1.  non-preskriptif dan non-purist (purist: mempertahankan kemurnian bahasa),
  2. apresiatif pada variasi,
  3.  mempertimbangkan norma-norma ujaran yang berbeda,
  4. perhatian terhadap multikulturalisme dan multilingualisme yang ada di ‘lapangan’,
  5. memperhatikan sifat interaktif ujaran,
  6. memperhatikan sikap dan norma dari sub-kelompok yang berbeda dalam sebuah masyarakat,
  7. menerima perubahan yang terjadi pada bahasa,
  8. responsif terhadap masalah-masalah kontekstual yang berhubungan dengan kekuatan, budaya, dan identitas.


Wardhaugh, Ronald. (2006). Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publishing.
Mesthrie, Rajend. (2008). Sociolinguistics and Sociology of Language. Dalam Spolsky, B. & Hult, F.M. (Editor). The Handbook of Educational Linguistics. Oxford: Blackwell Publishing.