Linguistik mempelajari bahasa dari berbagai sudut pandang. Beberapa fokus linguistik yang paling signifikan adalah struktur, pemerolehan, penggunaan, dan perubahan bahasa. Sosiolinguistik—sebagai salah satu cabang linguistik—walaupun mencakup aspek-aspek tersebut, fokusnya adalah pada penggunaan bahasa. Sosiolinguistik memfokuskan diri dalam mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat untuk mendapatkan pemahaman mengenai struktur bahasa dan bagaimana bahasa berperan dalam komunikasi. Hudson (1996: 4, dalam Wardhaugh, 2006:13) mendeskripsikan sosiolinguistik sebagai ‘kajian bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat’. Latar belakang sosial dan maksud pengguna bahasa, karakteristik dan identitas sosial mereka, juga konteks sosial dimana bahasa itu digunakan merupakan beberapa yang termasuk kajian sosiolinguistik.
Konteks sosial yang dimaksud di sini mencakup hal-hal seperti siapa yang berbicara, bahasa seperti apa yang tepat digunakan dalam situasi tertentu, dan bagaimana para pengguna suatu bahasa memiliki asumsi dan norma budaya yang berbeda walaupun mereka tampak berbicara bahasa yang sama (Mesthrie dalam Spolsky & Hult, 2008: 66). Sosiolinguistik memperhatikan sepenuhnya pada ‘keadaan sesungguhnya’ suatu bahasa dalam konteks sosial tersebut. Sosiolinguistik memiliki pendekatan yang non-preskriptif; ia tidak statis dan tidak membenarkan atau menyarankan bagaimana idealnya suatu bahasa. Sosiolinguistik menghindari penilaian subjektif bahwa beberapa aspek dari suatu bahasa lebih baik daripada yang lain dan lebih melihat bahwa ada banyak variasi norma dalam sebuah masyarakat bahasa yang disebabkan oleh perbedaan karakteristik kelompok-kelompok dalam masyarakat tersebut maupun perbedaan konteks penggunaan bahasa. Akhir-akhir ini, di televisi sering terlihat bagaimana muncul ungkapan seperti, ‘Terus aku harus bilang wow, gitu?” untuk merespon secara sarkastis pernyataan orang lain. Dari situ seorang sosiolinguis akan bertanya: siapa yang menggunakan ungkapan tersebut? Berapakah usia pembicara? Dalam konteks apa saja ungkapan itu digunakan?. Kesimpulannya, sosiolinguistik memiliki kecenderungan ‘bottom up’ (bawah ke atas) dibanding ‘top down’ (atas ke bawah).
Mesthrie (dalam Spolsky & Hult, 2008: 67) merangkum bahwa karakterisik sosiolinguistik secara umum adalah:
- non-preskriptif dan non-purist (purist: mempertahankan kemurnian bahasa),
- apresiatif pada variasi,
- mempertimbangkan norma-norma ujaran yang berbeda,
- perhatian terhadap multikulturalisme dan multilingualisme yang ada di ‘lapangan’,
- memperhatikan sifat interaktif ujaran,
- memperhatikan sikap dan norma dari sub-kelompok yang berbeda dalam sebuah masyarakat,
- menerima perubahan yang terjadi pada bahasa,
- responsif terhadap masalah-masalah kontekstual yang berhubungan dengan kekuatan, budaya, dan identitas.
Wardhaugh, Ronald. (2006). Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publishing.
Mesthrie, Rajend. (2008). Sociolinguistics and Sociology of Language. Dalam Spolsky, B. & Hult, F.M. (Editor). The Handbook of Educational Linguistics. Oxford: Blackwell Publishing.

No comments:
Post a Comment